Kamis, 24 Maret 2011

TEKNOLOGI BETON

"The Quality of the Concrete in the Structure Depends on the Workmanship on Site"
N. Jackson

Beton
Beton merupakan fungsi dari bahan penyusunnya yang terdiri dari bahan semen hidrolik (portland cement), agregat kasar, agregat halus, air dan bahan tambah (admixture atau additive).

Masalah yang dihadapai oleh seorang perencana adalah bagaimana merencanakan komposisi dari bahan-bahan penyusun beton tersebut agar dapat memenuhi spesifikasi teknik yang ditentukan.

parameter-parameter yang paling mempengaruhi kekuatan beton adalah :
1. Kualitas Semen
2. Proporsi semen terhadap campuran
3. Kekuatan dan kebersihan agregat
4. Interaksi atau adhesi antara pasta semen dengan agregat
5. Pencampuran yang cukup dari bahan-bahan pembentuk beton
6. Penempatan yang benar, penyelesaian dan pemadatan beton
7. Perawatan beton
8. Kandungan klorida tidak melebihi 0,15% dalam beton yang diekspos dan 1 % bagi beton yang tidak diekspos (Nawy, 1985:24)

Perbedaan Pasta Semen, Mortar, Beton?
Pasta Semen adalah campuran antara Air dan Semen
Mortar adalah campuran Air, Semen dan Agregat Halus
Beton adalah campuran Air, Semen, Agregat Halus, Agregat Kasar dengan atau bahan tambah lainnya.

Bahan - Bahan Penyusun Beton diantaranya :
Semen;
Air;
Agregat halus;
Agregat kasar;
dengan atau tanpa penambahan Admixture sebagai bahan tambah


Beton

Beton adalah campuran dari agregat halus dan kasar (pasir, kerikil, batu pecah, atau jenis agregat lainnya) dengan semen, yang dipersatukan oleh air dalam perbandingan tertentu.


Bahan – bahan penyusun beton antara lain :

Semen

Semen merupakan bahan campuran yang secara kimiawi aktif setelah berhubungan dengan air. Semen Portland adalah bahan konstruksi yang paling banayk digunakan dalam pekerjaan beton. Menurut ASTM C150, 1985, semen adalah bahan pengikat hidrolis berupa bubuk halus yang dihasilkan dengan cara menggiling klinker yang terdiri dari kalsium silica hidrolik, yang umumnya mengandung satu atau lebih banyak bentuk kalsium sulfat sebagai bahan tambahahan yang digiling bersama-sama dengan bahan utamanya.

Fungsi utama semen adalah mengikat butir-butir agregat hingga membentuk suatu massa padat dan mengisi rongga-rongga udara diantara butir-butir agregat.


Agregat

Agregat adalah butiran mineral yang berfungsi sebagai bahan pengisi campuran beton.

Agregat ditinjau dari besarnya butiran dapat dibedakan menjadi

1.Agregat halus adalah agregat yang semua butirannya melewati ayakan dengan lubang 4,78 mm (ASTM C33, 1982).

2.Agregat kasar adalah agregat yang semua butirannya tertinggal di atas ayakan 4,78 mm (ASTM C33, 1982).


Air
Air diperlukan pada pembuatan beton untuk pemiscu proses kimiawi semen, membasahi agregat dan memberikan kemudahan pengerjaan beton. Air yang dapat diminum umumnya dapat digunakan sebagai campuran beton. Air yang mengandung senyawa – senyawa berbahaya, yang tercemar garam, minyak atau bahan kimia lainnya, bila dipakai dalam campuran beton akan menurunkan kualitas beton, bahkan dapat mengubah sifat – sifat beton yang dihasilkan. Maka diperlukan pemerikasaan air apakah air yang akan digunakan memenuhi syarat – syarat tertentu.

Admixture
Bahan tambah untuk beton (admixture) adalah bahan atau zat kimia yang ditambahkan di dalam adukan beton pada tahap tambah ini secara umum adalah untuk memperoleh sifat – sifat beton yang diinginkan, sesuai dengan tujuannya.
Jika ditinjau dari fungsinya, ASTM membagi bahan tambah untuk beton menjadi tujuh tipe bahan tambah :

Tipe A : Water Reducing Admixtures
Bahan tambah ini berfungsi mengurangi penggunaan air pengaduk, untuk menghasilkan beton dengan konsistensi tertentu. Dengan pemakaian bahan tambah ini faktor air semen menjadi lebih rendah pada tingkat workability yang sama, dengan demikian kekuatan beton dapat meningkat.

Tipe B : Retarding Admixtures
Bahan tambah ini berfungsi untuk memperlambat proses pengerasan adukan beton.
Bahan tambah ini berfungsi untuk mempercepat proses pengerasan adukan beton.

Tipe C : Accelerating Admixture
Bahan tambah ini berfungsi untuk mempercepat proses pengerasan adukan beton.

Tipe D : Water Reducing and Retarding Admixtures
Bahan tambah ini berfungsi ganda yaitu untuk mengurangi penggunaan air tetapi tetap memperoleh adukan beton dengan konsistensi tertentu dan memperlambat proses pengikatan dan pengerasan adukan beton.

Tipe E : Water Reducing and Accelerating Admixtures
Bahan tambah ini berfungasi ganda yaitu untuk mengurangi penggunaan air dalam adukan beton dan mempercepat proses pengikatan dan pengerasan beton.

Tipe F : Water Reducing, High Range Admixtures
Bahan tambah yang berfungsi untuk mengurangi jumlah air pencampur yang diperlukan untuk menghasilkan beton dengan konsistensi tertentu, sebanyak 12% atau lebih.

Tipe G : Water Reducing, High Range Retarding Admixtures
Bahan tambah yang berfungsi untuk mengurangi jumlah air pencampur yang diperlukan untuk menghasilkan beton dengan konsistensi tertentu, sebanyak 12% atau lebih dan juga untuk menghambat pengikatan beton.

Sumber :
Samekto Wuryati dan Candra Rahmadiyanto, 2001, “Teknologi Beton”, Kanisius, Yogyakarta
Mulyono Tri, 2004, “Teknologi Beton”, Andi, Yogyakarta

Tidak ada komentar: